Sudah Latihan Lama, Tapi Otot Belum Berkembang

Sudah Latihan Lama, Tapi Otot Belum Berkembang

Sudah berapa lama Anda latihan ‘Fitness’?! Tapi belum ada perkembangan yang cukup signifikan?! Mungkin ada kesalahan dalam latihan, atau bisa juga latihan Anda kurang maksimal.

Dibawah ini beberapa penyebab kesalahan, atau hal-hal yang belum Anda ketahui kenapa otot belum juga berkembang setelah latihan beberapa bulan.

Kurang Intensif Dalam Latihan

Kurangnya intensif dalam melatih otot, maka otot Anda akan tidak membesar dan tidak akan menjadi lebih kuat. Yang terjadi otot Anda akan menjadi manja. Maksimalkan lagi latihan Anda, dan tambah fokus untuk melatih otot-otot Anda.

Terlalu Banyak Melakukan Kardio

Jika Anda ingin melatih dan membangun otot Anda, kurangi latihan kardio yang berlebihan. Latihan kardio secukupnya dan jangan terlalu lama dalam latihan kardio. Latihan kardio hanya untuk meningkatkan stamina Anda. Latihan kardio yang terlalu keras akan membuat tubuh Anda lelah dan menyebabkan otot-otot akan menyusut.

Kurang Membangun Masa Otot

Beri tantangan pada otot Anda. Semakin berat beban yang Anda angkat, otot akan menjadi lebih berkembang.

Kurangnya Konsumsi Protein

Aktifitas berat yang sedang Anda lakukan, misalkan angkat beban saat fitness, tubuh Anda akan membutuhkan kadar protein sebanyak 2 hingga 3 kali dari berat tubuh Anda. Misalkan berat badan Anda 65 Kg, maka kadar protein yang diperlukan adalah sebanyak 130 gram protein/hari. Angka ini juga disesuaikan dengan beratnya aktifitas rutin yang Anda jalankan.

Konsumsi Suplemen Yang Kurang Tepat

Banyaknya jenis-jenis suplemen yang beredar saat ini, membuat fitness mania pemula akan kebingungan dan menjadi korban pemasaran. Sehingga apa saja yang disarankan oleh penjual suplemen, akan Anda konsumsi tanpa mengetahui fungsinya. Ayo perbanyak bertanya kepada yang sudah berpengalaman, atau bisa langsung bertanya dengan instruktur fitness Anda. Belajar dan ketahui suplemen-suplemen apa saja yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tubuh Anda.

Kesalahan Teknik Latihan

Memberi tantangan pada otot tubuh Anda, untuk menambah berat beban memang sangat diperlukan, tetapi yang lebih penting adalah mengetahui dan menguasai tekniknya. Seperti, teknik yang benar untuk menhindari resikonya cidera, atau menguasai teknik latihan yang benar. Kurangnya pengetahuan dan malu bertanya, akan menyesatkan Anda kelak. Jangan sungkan untuk selalu konsultasi dan bertanya-tanya dengan instruktur Anda. Minta bimbingan, minimal selama 3 bulan.

Beberapa Manfaat Angkat Beban Untuk Kesehatan Tubuh Anda!

Beberapa Manfaat Angkat Beban Untuk Kesehatan Tubuh Anda!

Memiliki penampilan yang menarik tentu merupakan impian siapa pun, tidak terkecuali bagi para pria. Melakukan olahraga angkat beban dianggap menjadi salah satu cara yang tepat untuk menunjang penampilan. Bisa dibilang saat ini angkat beban banyak dilakukan oleh para pria. Apalagi, saat ini mudah sekali menemukan pusat kebugaran yang menyediakan fasilitas angkat beban.

Tidak dimungkiri, banyak pria memulai angkat beban karena ingin memperoleh bentuk tubuh yang ideal. Tidak sekadar membentuk tubuh, sebenarnya angkat beban memiliki serangkaian manfaat bagi kesehatan tubuh. Apa saja keuntungan yang didapat pria dari melakukan latihan fisik ini?

Padahal, angkat beban itu gak cuma soal membesarkan otot, loh. Masih ada banyak manfaat kesehatan lain yang bisa kamu dapat dari olahraga angkat beban. Gak percaya? Ini dia ulasan lima manfaat kesehatan dari angkat beban.

Mencegah kerapuhan tulang

Ini khususnya penting bagi orang yang sudah mulai berumur, karena secara alami tulang kita memang akan mulai merapuh seiring bertambahnya usia. Maka salah satu solusinya adalah angkat beban, karena angkat beban bisa menstimulasi tubuh kita untuk terus memperbarui sel-sel tulang.

Meningkatkan fungsi otak

Olahraga angkat beban diketahui dapat meningkatkan hormon yang berperan dalam pembentukan sel otak baru, yaitu brain-derived neurotrophic factor. Tidak hanya itu, olahraga angkat beban secara rutin dan intens dipercaya dapat menambah daya ingat. Pada akhirnya, fungsi otak yang baik dapat meningkatkan kualitas berpikir Anda.

Mencegah penyakit jantung

Seiring bertambahnya usia, penurunan kadar hormon testosteron dapat terjadi dalam tubuh pria. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung. Sementara itu, olahraga angkat beban dipercaya dapat memompa kadar hormon testosteron dalam tubuh. Dengan begitu, risiko mengalami penyakit jantung dapat diturunkan.

Menurunkan resiko diabetes

Bukan hanya serangan jantung dan stroke, resiko diabetes pun bisa berkurang kalau kamu rajin angkat beban. Studi dari PLOS Medicine menemukan bahwa angkat beban 2-3 kali per minggu pada wanita berhubungan erat dengan turunnya resiko terkena diabetes tipe 2.

Studi lain Diabetes Journals menyebut bahwa pada pria dewasa yang menderita diabetes tipe 2, angkat beban bisa meningkatkan sensitivitas insulin. Artinya, sel-sel tubuh bisa merespon insulin dengan lebih baik dan menggunakan gula dengan lebih efektif, sehingga menurunkan kadar gula darah.

Mengurangi stres

Selain kesehatan fisik, olahraga angkat beban juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental. Faktanya, menurut The International Journal of Sport Medicine, terjadi penurunan hormon kortisol pada orang yang melakukan olahraga angkat beban selama 2 minggu.

Lakukan Tips Ini Sebelum Anda Berolahraga

Lakukan Tips Ini Sebelum Anda Berolahraga

Meninggalkan libur panjang dan kembali beraktivitas mungkin membuatmu harus kembali mengatur jadwal aktivitas dengan rinci. Termasuk jadwal berolahraga. Namun, selain jadwal berolahraga, kamu juga harus ingat bahwa ada sejumlah hal yang tak boleh dilakukan sebelum, saat, dan setelah berolahraga. Pantangan itu antara lain melewatkan pemanasan dan pendinginan, makan terlalu banyak, atau konsumsi minuman mengandung gula setelah berolahraga.

Over-stretch

Pemanasan sebelum berolahraga dibutuhkan. Namun ternyata tak semua jenis olahraga membutuhkan banyak pemanasan. Hal itu dikatakan oleh mantan petinju profesional sekaligus co-creator super-gym Aerospace, Michael Olajide Jr. Menurutnya, olahraga yang menggerakkan seluruh bagian tubuh cenderung tak membutuhkan pemanasan terlalu lama. Seperti tinju atau bersepeda. Namun, pemanasan dibutuhkan jika kita akan melakukan olahraga dengan perubahan gerakan yang terbatas.

Minum Terlalu Banyak Air

Minum banyak air baik untuk untuk kesehatan, terutama bagi mereka yang aktif seperti seorang pelari yang membutuhkan ketahanan (endurance) atau akan menghadapi kompetisi penting. Namun, minum terlalu banyak air sebelum melakukan kelas aerobik, angkat beban atau jogging akan membuat tubuhmu menjadi berat. “Kebanyakan dari kita tidak berolahraga cukup berat untuk “menurunkan” satu liter air saja. Apalagi, kita juga mengkonsumsi cairan dari berbagai sumber lain, seperti kopi, buah dan sayuran,” kata dia.

Perhatikan Pakaian yang Digunakan

Perhatikanlah pakaian yang akan digunakan sebelum berlari. Sebaiknya gunakanlah pakaian yang menyerap dan tidak terlalu ketat dan berpori, seperti bahan polypropylene atau coolmax dan supplex.

Sebisa mungkin hindari penggunaan bahan katun, karena cenderung menjadi basah ketika terkena keringat dan memberikan rasa yang tidak nyaman.

Hindari Makan Terlalu Banyak

Seseorang pasti membutuhkan energi untuk berolahraga. Salah satu cara untuk mendapatkan energi adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat. Tetapi mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak tentu bukan tindakan yang tepat.

Saat berlari, proses pencernaan akan berjalan lamban dan aliran darah ke dalam sistem gastro-intestinal (GI) dialihkan ke otot untuk berolahraga. Sehingga makanan tidak dapat dicerna dengan normal dan dapat menimbulkan kram.

Olahraga Menjadi Faktor Utama Serangan Jantung?

Olahraga Menjadi Faktor Utama Serangan Jantung?

Banyaknya kasus serangan jantung yang terjadi ketika sedang olahraga tampaknya membuat banyak orang ketakutan. Alhasil jadi takut olahraga, dan akhirnya kesehatan jantung tidak terjaga.

Semua orang tahu manfaat kesehatan dari berolahraga. Namun, beberapa orang yang melakukan olahraga secara rutin – bahkan atlet sekalipun, ada yang meninggal mendadak saat atau setelah olahraga. Kejadian itu sontak membuat orang bertanya-tanya, apa benar olahraga malah memicu kematian mendadak? Apakah penyebabnya karena jantung berhenti atau serangan jantung?

Serangan henti jantung berbeda dengan serang jantung biasa, meskipun keduanya bisa menyebakan jantung gagal berfungsi sebagai mana mestinya dan menyebabkan kematian. Serangan henti jantung atau istilah medisnya disebut dengan sudden cardiac arrest (SCA) adalah berhentinya detak jantung secara mendadak yang disebabkan adanya gangguan aliran listrik di jantung, sehingga menghambat aktivitas pemompaan darah dan menghentikan sirkulasi darah dalam tubuh. Umumnya seseorang yang terkena serangan henti jantung saat berolahraga dikarenakan telah memiliki riwayat penyakit jantung ini, hanya saja mereka tidak menyadari hal tersebut. Sedangkan serangan jantung atau heart attack kebanyakan disebabkan oleh penyakit jantung yang berlangsung kronik dalam waktu lama. Serangan ini terjadi karena adanya penyumbatan mendadak di dalam pembuluh darah koroner sehingga aliran darah ke otot jantung menjadi terhambat dan akhirnya merusak otot jantung. Orang dengan riwayat serangan jantung sebelumnya akan memiliki risiko untuk mengalami henti jantung mendadak.

Apa penyebab henti jantung saat olahraga?

Pada usia muda (di bawah 35 tahun), penyebab kematian mendadak saat olahraga umumnya akibat terjadinya SCA, bukan serangan jantung. Ini disebabkan karena hipertropik kardiomiopati. Kardiomiopati adalah suatu penyakit genetik yang menyebabkan terjadinya penebalan tidak normal di otot-otot jantung. Sedangkan, penyebab kematian mendadak pada usia yang lebih tua berbeda – lebih dari 50 tahun, umumnya disebabkan karena mereka memiliki penyakit jantung koroner dan pernah mengalami serangan jantung sebelumnya. Serangan jantung mengakibatkan beberapa otot jantung mati dan sekaligus mengganggu aliran listrik jantung. Maka tidak heran, bila di kemudian hari mereka menjadi rentan mengalami SCA. Saat melakukan aktivitas olahraga, semua otot bergerak, termasuk otot jantung. Ketika melakukan olahraga dengan intensitas tinggi, seseorang yang memiliki faktor kardiomiopati, otot jantungnya akan semakin menebal saat olahraga. Hal ini membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa oksigen dan aliran listrik menjadi terganggu.

Tips menghindari henti jantung saat berolahraga

Sesuai yang sudah dijabarkan di atas, itu sebabnya sangat penting bagi kita untuk melakukan deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan jantung. Terutama jika memang memiliki riwayat keluarga yang menderita penyakit jantung dan kerap merasakan gejala seperti sesak napas, nyeri dada, pusing, dan lemas. Mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung, ada baiknya untuk selalu melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum berolahraga. Mulailah melakukan olahraga dengan aktivitas yang ringan-ringan dahulu. Pasalnya hal tersebut akan membantu jantung menyesuaikan aktivitas secara perlahan. Setelah selesai olahraga, jangan lupa untuk melakukan pendinginan secara perlahan-lahan dengan memperlambat kecepatan. Jangan berhenti tiba-tiba. Langsung duduk, diam berdiri, ataupun berbaring setelah berolahraga bisa membuat kita merasa pusing atau bahkan jantung berdebar-debar. Hal yang terpenting lainnya adalah memperhatikan faktor apa saja yang memicu seseorang terkena serangan jantung. Seperti menghilangkan kebiasaan merokok, makanan yang tidak sehat, malas berolahraga, stres, kurang tidur, minum alkohol ataupun hal lainnya. Itu sebabnya sangat penting untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Jika kamu memiliki penyakit jantung, bukan lantas kamu tidak boleh berolahraga sama sekali. Konsultasikanlah dengan dokter mengenai seberapa berat intensitas olahraga yang boleh dilakukan. Selama tidak melebihi kapasitas jantung, kamu dapat berolahraga dengan aman.

Sering di anggap remeh, berikut bahaya jika kamu kekurangan Vitamin D

Sering di anggap remeh, berikut bahaya jika kamu kekurangan Vitamin D

Sebagai seorang perempuan, pasti kamu sering menghindari paparan sinar matahari. Menyebabkan perubahan warna kulit dan membuat tubuh terasa gerah, menjadi faktor kamu lebih memilih berada didalam ruangan. Padahal, sinar matahari mengandung vitamin D yang sangat baik untuk kesehatan tubuh kamu lho. Jika tubuh kurang vitamin D, maka dapat meningkatkan resiko terjadi gangguan kesehatan. Kekurangan vitamin D sering kali sulit terdeteksi karena gejalanya yang tidak spesifik. Padahal, kekurangan vitamin D dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah pada tulang, seperti penyakit rakitis dan osteoporosis, serta melemahnya sistem kekebalan tubuh.  

Penyebab Kekurangan Vitamin D

Kekurangan vitamin D atau defisiensi vitamin D adalah kondisi di mana tubuh tidak mendapatkan asupan vitamin tersebut secara cukup. Ini bisa terjadi karena kurang mengonsumsi makanan sumber vitamin D atau jarang terpapar sinar matahari.

Selain itu, ada beberapa kondisi yang juga dapat menyebabkan seseorang mengalami kekurangan vitamin D, yaitu:

  • Menderita gangguan atau penyakit yang dapat menghambat penyerapan vitamin D di saluran cerna, seperti penyakit radang usus dan malabsorpsi.
  • Menderita alergi susu atau intoleransi laktosa.
  • Memiliki warna kulit gelap.
  • Berusia lanjut.
  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, misalnya obat antikejang atau pengobatan HIV.
  • Menjalani pola makan vegetarian.

Gangguan Kesehatan Yang Menyerang Anda, Jika Kekurangan Vitamin D :

Menjadi Lebih Mudah Depresi

Vitamin D berperan dalam mengatur hormon serta dapat memengaruhi bagian otak yang menjadi pusat perasaan hati. Dengan mencukupi kebutuhan vitamin D, tubuh mampu meningkatkan zat kimia pada otak dan dapat menurunkan tingkat stress. Jika kekurangan vitamin D, potensi mengalami depresi menjadi meningkat. 

Meningkatkan Resiko Terkena Penyakit Jantung

Kekurangan vitamin D, beresiko juga mengalami masalah serius didalam sirkulasi darah yang dapat berujung menjadi penyakit jantung. Beberapa teori juga menyebutkan bahwa vitamin D dapat membantu jantung memompa darah lebih efektif. Jadi, jika jumlahnya cukup, maka resiko penyakit jantung akan berkurang.

Tulang Menjadi Lebih Rapuh

Salah satu fungsi vitamin D adalah sebagai satu zat gizi yang membantu pembentukan tulang. Sehingga, dapat  dipastikan jika kekurang vitamin D, akan menganggu fungsi tulang. Vitamin D berperan dalam menjaga jumlah kalsium dan fosfor, yang merupakan mineral penting untuk kesehatan tulang. 

Kekurangan vitamin matahari ini membuat mineral tidak ada yang menjaga dan menyebabkan penurunan. Kemudian ini yang membuat tulang menjadi lebih mudah rapuh, bahkan beresiko osteoporosis.

Nyeri Otot

Tak hanya tulang, vitamin D juga diperlukan untuk otot kita. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan nyeri otot parah, berkurangnya massa otot dan pemulihan otot yang buruk setelah aktivitas fisik yang intens.

Pria Lebih Rentan Mengalami Diabetes, Simak Tanda dan Gejala Diabetes

Pria Lebih Rentan Mengalami Diabetes, Simak Tanda dan Gejala Diabetes

Diabetes merupakan penyakit yang sebaiknya jangan diremehkan, diabetes bisa merusak beragam organ penting dalam tubuh yang bisa memicu kematian mendadak. Semua orang bisa terkena diabetes. Tapi untuk beberapa pria yang berisiko lebih tinggi, seperti perokok atau yang suka minum minuman keras, gejala dan perkembangan diabetes harus lebih diwaspadai. Pasalnya gejala diabetes kadang bisa tampak seperti masalah kesehatan lainnya yang lebih sepele. Oleh karena itu, banyak yang kurang memedulikan gejalanya sampai sudah sangat parah dan terlambat diobati. Simak gejala diabetes pada pria selengkapnya di artikel ini.

Tanda dan Gejala Diabetes Pada Pria

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara gejala diabetes pada wanita atau pria. Namun paling tidak ada tujuh gejala diabetes yang hanya muncul khusus pada pria :

1. Penurunan Berat Badan Yang Tidak Biasa

Tanpa disadari penderita diabetes akan mengalami penurunan berat badan tanpa diketahui penyebab yang jelas. Pada penderita diabetes, turunnya berat badan disebabkan karena dibuangnya sebagian gula dalam darah ke sistem ginjal melalui urine. Padahal gula dalam darah merupakan hasil pencernaan pada makanan di dalam lambung. Akibatnya berapapun jumlah makanan yang dimakan akan sia-sia selama insulin tidak mampu menyalurkan gula sebagai sumber energi bagi tubuh.

2. Penglihatan Kabur

Gangguan penglihatan kabur ini sering disebut katarak dan biasanya dialami penderita diabetes yang sudah lama. Katarak dapat timbul karena gula membentuk suatu lapisan yang menutupi lensa mata. Hal inilah yang menyebabkan lensa mata menjadi buram sehingga menghambat masuknya cahaya ke saraf mata dan akibatnya mengganggu penglihatan. Gangguan ini dapat diatasi dengan cara melakukan operasi mata melalui menggantikan lensa mata yang rusak dengan lensa buatan.

3. Sering Buang Air Kecil

Sering buang air kecil adalah tanda diabetes, tetapi beberapa orang banyak mengabaikan tanda ini. Namun, sering buang air kecil juga bisa menjadi masalah dalam prostat. Oleh karena itu Anda harus melakukan tes medis untuk mengetahui kondisi dengan tepat.

4. Penyembuhan Dari Luka Menjadi Lambat

Apabila terjadi luka, seringkali penyembuhan atas luka tersebut sangat lama. Hal ini disebabkan karena berkurangnya suplai darah akibat menyempitnya pembuluh darah. Untuk pencegahan, disarankan agar penderita diabetes selalu menjaga dan merawat kulitnya meskipun tidak terjadi luka.

5. Disfungsi Ereksi

Dalam jangka waktu yang lama, penderita diabetes pria juga dapat mengalami risiko disfungsi ereksi, yaitu ketika Anda tidak dapat ereksi secara optimal. Pada kondisi akut, dapat menyebabkan impotensi. Disfungsi ereksi ini disebabkan karena terjadinya kerusakan sel syaraf akibat diabetes. Diabetes dapat mengakibatkan terganggunya sistem aliran darah di sekitar sel-sel syaraf seperti pada ginjal dan alat kelamin. Jika tidak segera ditangani, maka dapat mengganggu hubungan keharmonisan rumah tangga.

6. Nyeri Dada Saat Berolahraga

Saat akan terkena diabetes anda akan membuat metabolisme tubuh menjadi berjalan tidak lancar, hal ini bisa membuat tekanan darah meninggi dan membuat dada Anda mengalami sakit, terutama saat Anda berkegiatan fisik.

7. Mati rasa atau Kesemutan, terutama di kaki dan tangan

Jika ada terlalu banyak gula dalam darah, maka saraf bisa menjadi rusak, karena terjadi hambatan pada pembuluh darah kecil yang memberi makan saraf. Hal ini terjadi secara umum sehingga biasanya mengalami kesemutan dan / atau mati rasa di kedua tangan dan kaki.